Jumat, 30 Januari 2015



FUNDAMENTALISME DI INDONESIA

A.      Pengenalan

Dewasa ini banyak kalangan yang begitu peduli dengan situasi keberagamaan dunia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Berbagai gerakan muncul mencoba menjawab tantangan zaman, dan tidak sedikit juga yang muncul sebagai counter atau penangkal dari zaman yang sudah semakin “buruk” dalam pandangan mereka.
Sebut saja gerakan funmentalisme. Istilah ini belakangan sering mucul diberbagai media massa, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Gerakan fundamentalisme ini dikhawatirkan oleh banyak pihak akan menjurus pada gerakan yang lebih radikal seperti ancaman terorisme. Dimana gerakan ini selalu berlindung di bawah paham fundamentalisme agama, terutama agama Islam.
Karena itulah, kita sering sekali mendengar istilah fundamentalis tapi konotasinya atau lebih idientik dengan dengan fundamentalisme Islam atau Islam fundamentalis yang memiliki kesan negative dan ekstremisme. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, fundamentalis yang berakar pada agama itu tidak hanya Islam, melainkan juga agama lain seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Yahudi, dan Konghucu.
Dalam banyak literatur, para pakar mengatakan bahwa tidak ada yang salah dari fundamentalisme, karena gerakan ini adalah gerakan yang mencoba memurnikan ajaran agama, atau mengembalikan ajaran agama kepada khittahnya. Namun, pada prakteknya, istilah ini lebih dekat kepada gerakan “pemaksaan” pemahaman keagamaan yang pada ujungnya terkesan lebih radikal.
Padahal kalau di runut dari sejarah, itilah fundamentalisme ini justru pertama kali muncul di dunia Barat oleh gerakan Kristen Protestan Amerika. Mereka memerangi masyarakat sekuler yang baik maupun yang buruk, mengisolasi dari kehidupan bermasyarakat, dan memusihi akal pikiran hasil penemuan ilmiah. Dengan demikian pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengoptimalkan kualitas kemanusiaan sesuai fitrahnya. Dan, hal itu akan bisa diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat.
Kaum fundamentalisme ini muncul lebih kepada ketidakberdayaan mereka dalam menghadapi arus globalisasi yang kenyataanya memang sulit dibendung. Bahkan sedikit sekali yang terfiltrasi oleh masyarakat sehingga menyebabkan lahirnya perilaku masyarakat yang inmoral dan menyimpang dari norma-norma agama.
Dibanyak daerah, masuknya kebudayaan luar yang cenderung merusak tatanan hidup masyarakat yang telah terikat dengan nilai-nilai luhur religiutas, membuat banyak kalangan khawatiran akan tercabutnya akar-akar tatanan sosial masyarakat madani. Maka dari itulah, kaum fundamentalis muncul sebagai penyaring dan pembendung dari hancurnya norma-norma agama tersebut, hanya saja kemunculan gerakan ini justru membuat resah banyak pihak karena pada kenyataanya gerakan ini justru meresahkan dan bahkan terlihat sangat radikal.
Dalam buku ini akan mengupas bagaimana tradisi Islam muncul di Indonesia, kemudian bagaimana perkembangannya sehingga pada aklhirnya melahirkan gerakan yang dinamakan fundamentalisme. Dalam buku ini juga akan du ulas berbagai gerakan fundamental, penyebap kelahirannya hingga mereka menguasai berbagai dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara seperti menguasai panggung politik di Indonesia.







DAFTAR ISI

FUNDAMENTALISME DI INDONESIA

Pengenalan
BAB I: MENGENAL DEMOGRAFI INDONESIA
BAB II: ISLAM DI INDONESIA
A.      Sejarah Islam di Indonesia
B.       Hubungan Antar Umat Beragama di Indonesia

BAB III: KEBANGKITAN FUNDAMENTALISME AGAMA DI INDONESIA
A.      Akar Sejarah Fundamentalisme Di Indonesia
B.       Perkembangan Fundamentalisme di Indonesia
C.       Karakteristik Gerakan Fundamentalisme Di Indonesia

BAB IV: KLASIFIKASI ISLAM KONTEMPORER DI INDONESIA
A.      Islam Kultural
·         NahdatulUlama  - Traditionalist Social Organization
·         Muhammadiyah– Modernist Social Organization
·         Perkumpulan Jamiat Kheir (1901 – 1919)
·         Salafiyah Movement
·         Sufi Tarekat
B.       Islam Politik
·         PKS – PartaiKeadilan Sejahtera (Prosperous Justice Party)
·         PKB – PartaiKebangkitanBangsa (National Awakening Party)
·         PPP -  Partai Persatuan Pembangunan (United Development Party)
·         PAN – PartaiAmanatNasional (National Mandate Party)
C.       Islam Kampus
·         Tarbiyah Movement
·         HizbutTahrir

D.      Islam Radikal
·         Darul Islam-Indonesia Islamic State
·         Jamaah Islamiyyah (Majelis Mujahidin Indonesia)
·         Front Pembela Islam - Islamic Defender Front
BAB V: FUNDAMENTALISME DALAM AGAMA LAIN DI INDONESIA
A.      Kristen dan fundamentalis
B.       Buddhis dan Fundamentalis
C.       Hindu dan Fundamentalis
D.      Tantangan dan Prospek













BAB I
MENGENAL DEMOGRAFI INDONESIA

Indonesia adalah Negara yang menghuni lebih 17.508 pulau degan jumlah total populasi sekitar 250 juta penduduk, dan merupakan negara berpenduduk terpadat nomor empat di dunia. Komposisi etnis di Indonesia amat bervariasi karena negeri ini memiliki ratusan ragam suku dan budaya. Meskipun demikian, lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh dua suku terbesar: suku Jawa (41 persen dari total populasi) dan suku Sunda (15 persen dari total populasi).
Suku Jawa dan Sunda ini berasal dari pulau Jawa, pulau dengan penduduk terbanyak di Indonesia yang mencakup sekitar enam puluh persen dari total populasi Indonesia. Jika digabungkan dengan pulau Sumatra, jumlahnya menjadi 80 persen total populasi. Ini adalah indikasi bahwa konsentrasi populasi terpenting berada di wilayah barat Indonesia. Propinsi paling padat adalah Jawa Barat (lebih dari 43 juta penduduk), sementara populasi paling lengang adalah propinsi Papua Barat di wilayah Indonesia Timur (dengan populasi hanya sekitar 761,000 jiwa).[1]

Suku Bangsa
Populasi
Persentase
Kawasan utama
95.217.022
40,22
36.701.670
15,5
8.466.969
3,58
7.179.356
3,03
6.807.968
2,88
6.462.713
2,73
6.359.700
2,69
5.365.399
2,27
Pesisir timur Sumatera , Kalimantan Barat
4.657.784
1,97
4.127.124
1,74
4.091.451
1,73
3.946.416
1,67
3.173.127
1,34
3.009.494
1,27
2.832.510
1,2
2.672.590
1,13
1.877.514
0,79
1.251.494
0,53
1.237.177
0,52

Demografi Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki

Mayoritas peduduk Indonesia memeluk agama Islam, sedangkan di Bali agama Hindu lebih dominan. Di daerah lainnya seperti Minahasa di Sulawesi Utara, dataran tinggi Toraja di Sulawesi Selatan, pulau Nusa Tenggara, dan sebagian besar Papua, dataran tinggi Batak dan juga Pulau Nias di Sumatra Utara, mayoritas penduduknya beragama Katholik dan Protestan. Secara keseluruhan pada dasarnya masyarakat Indonesia sangat religius.
Pemerintah Indonesia hanya mengakui enam agama resmi, yakni IslamKristen KatolikKristen ProtestanHinduBuddha, dan Khonghucu. 80.3% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 9,2% Protestan, 3,5% Katolik, 1,8% Hindu, dan 0,4% Buddha dan Khonghucu
Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia membawa masyarakatnya untuk memiliki sikap toleransi terhadap setiap penganut agama, adat dan tradisi. Hal itu semakin diperkuat dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti "Meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua".
Indonesia yang terdiri dari berbagai macam pulau-pulau memiliki budaya dan bahasa yang saling berhubungan namun berbeda. Sejak kemerdekaannya Bahasa Indonesia (sejenis dengan Bahasa Melayu) menyebar ke seluruh penjuru Indonesia dan menjadi bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi, pendidikan, pemerintahan, dan bisnis. Namun tidak meninggalkan bahasa daerah masing-masing.
Sebagai Negara yang terlitak dipersimpangan benua, Indonesia merupakan Negara perdangangan dan persingahan berbagai kalangan di dunia dan khususnya dikawasan Asia. Karena kondisi itulah, akhirnya banyak sekali imigran yang berdatangan ke Indonesia. Dan imigran yang lebih banyak datang dari China tenggara, merupakan penduduk keturunan asing yang terbanyak, menyebar hampir di semua kota besar di Indonesia. Demikian pula pendatang dari Arab, Hadramaut Yaman merupakan kelompok pendatang kedua terbanyak dan disusul oleh pendatang dari India dan sekelompok kecil dari Eropa.
Luas dan banyaknya jumlah penduduk di Indonesia, membuat Indonesia menghadapi beberapa masalah besar anatara lain:
1.        Penyebaran penduduk tidak merata, sangat padat di Jawa - sangat jarang di Kalimantan dan Irian.
2.        Piramida penduduk masih sangat melebar, kelompok balita dan remaja masih sangat besar.
3.        Angkatan kerja sangat besar, perkembangan lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penambahan angkatan kerja setiap tahun.
4.        Distribusi Kegiatan Ekonomi masih belum merata, masih terkonsentrasi di Jakarta dan kota-kota besar dipulau Jawa.
5.        Pembangunan Infrastruktur masih tertinggal; belum mendapat perhatian serius
6.        Indeks Kesehatan masih rendah; Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi masih tinggi

Banyak sekali hal penting yang mendukung perkembangan Indonesia dilihat dari komposisi demografi yang memiliki hubungan dengan perekenomian adalah penduduk usia muda yang ada di Indonesia. Mereka adalah kekuatan kerja (asal ada cukup banyak kesempatan kerja). Rata-rata usia penduduk Indonesia adalah 28.2 tahun (perkiraan tahun 2011). Ini adalah median age yang berarti separuh dari populasi Indonesia berusia 28.2 tahun lebih dan separuhnya lagi umurnya di bawah 28.2 tahun. Mengenai jenis kelamin, rata-rata median age wanita di Indonesia adalah 28.7 tahun, sementara median age pria lebih muda setahun (27.7 tahun)



















BAB II
ISLAM DI INDONESIA

C.       Sejarah Islam di Indonesia
Sebagai agama dakwah, Islam disebar luaskan kebanyak tempat dan daerah. Dan proses penyebaran ini lebih banyak dilakukan oleh para pedagang muslim yang juga berperan sebagai dai. Para pedangang ini melakukan akwah Islam dengan berbagai metode hingga akhirnya sampai ke penjuru Nusantara.
Semenjak Islam masuk ke Indonesia hingga Indonesia merdeka penganutnya semakin bertambah. Sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara nomor satu di dunia dengan jumlah penduduk yang beragama Islam.
Islam masuk ke Indonesia melalui dakwah yang damai dan bukan dengan ketajaman mata pedang.[2] Akan tetapi sejauh menyangkut kedatangan Islam di indenesia terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli, mengenai tiga masalah pokok, tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya.[3]
Tidak ada teori yang secara komprehensif mampu menjawab tiga persoaln tersebut. Akan tetapi Islam menyebar di India dan semenanjugn Arab hingga ke Malaya kemudian masuk ke Indonesia. Pada beberapa daerah, Islam disebarkan melalui penaklukkan, akan tetapi di Asia Tenggara Islam disebarkan oleh para pedagang dan aktivitas sufi.[4]
Seorang penulis berkebangsaan Barat, Thomas W. Arnold menjelaskan bahwa Islam dibawa ke Nusantara oleh pedagang-pedagang Arab sejak abad pertama hijriah, lama sebelum adanya catatan sejarah. Pernyataan ini diperkuat dengan adanya perdagangan yang luas oleh orang-orang Arab dengan dunia timur sejak masa awal Islam.[5]
Di dalam Tarikh China, pada tahun 674 M, terdapat catatan tentang seorang pemimpin Arab yang mengepalai rombongan orang-orang Arab dan menetap di pantai barat Sumatera. Kemudian berdasarkan kesamaan mazhab yang dianut oleh mereka (pedagang dan muhballigh) anut, yaitu mazhab Syafi’i. Pada masa itu mazhab Syafi’I merupakan mazhab yang dominan di pantai Corromandel dan Malabor ketika Ibnu Batutah mengunjungi wilayah tersebut pada abad ke-14.[6]
 Dalam pernyataan diatas, Arnold mengatakan bahwa Arabia bukan satu-satunya tempat asal Islam dibawa, tapi juga dari Corromander dan Malabar. Versi lain yang dipaparkan oleh Azyumardi Azra yang mengutip beberapa pendapat dan teori sarjana, kebanyakan sarjana Belanda yang berpegang pada teori yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara berasal dari anak Benua India bukan Persia atau Arab. Sarjana pertama yang mengemukakan teori ini adalah Pijnappel, seorang pakar dari Leiden. Dia mengaitkan asal muasal Islam di Nusantara dengan dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut dia, adalah orang-orang yang bermazhab Syafi’I yang bermigrasi dan menetap di wilayah India tersebut yang kemudian membawa Islam ke Nusantara.[7] Teori ini dikembangkan oleh Snoujk Hurgronje
Moquetta, seorang sarjana belanda lainnya, berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa tempat asal Islam di Nusantara adalah Cambay, Gujarat. Dia berargument bahwa tipe nisan yang terdapat baik di Pasai maupun Gresik memperlihatkan tipe yang sama dengan yang terdapat di Cambay, India.[8]
Teori-teori diatas kelihatan berbeda, namun mempunyai beberapa persamaan, yaitu Islam dibawa oleh pedagang Arab dan sama-sama menganut mazhab Syafi’i. Perbedaannya ialah, Arnold mengatakan bahwa pedagang itu ada yang langsung dari Arabia dan ada yang berasal dari Corromander dan Malabar, sementara pendapat yang dikutip Azra menjelaskan bahwa para pedagang ini berasal dari anak benua India.
Selain dari itu, seminar yang dilaksanakan di Medan pada tahun 1963, tahun 1978 di Banda Aceh, dan tanggal 30 september 1980 di Rantau Kuala Simpang tentang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia menyimpulkan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad I H langsung dari tanah Arab melalui Aceh.[9] Kemudian daerah yang pertama kali didatangi Islam ialah pesisir Sumatera. Para muballigh itu selain sebagai penyiar agama juga merupakan pedagang. Dan penyiaran Islam di Indonesia dilakukan secara damai.[10]
Beberapa teori lain, sebgaimana yang dihimpun oleh Muhammad Hasan al-Idrus menjelaskan dua teori yang berbeda yang bertolak belakang, yaitu:
1.         Teori dari sarjanawan Eropa yang menjelaskan bahwa Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-13 M, ketika Marcopolo singgah di Utara pulau Sumatera pada tahun 1292 M.[11]
2.         Teori yang dikemukakan oleh beberapa sarjana Arab dan Muslim, antara lain Muhammad Dhiya’ Syahab dan Abdullah bin Nuh yang menulis kitab al-Islam fi Indonesia, serta Syarif Alwi bin Thahir al-Haddad seorang mufti kesultanan Johor Malaysia dalam kitabnya yang berjudul al-Madkhal ila Tarikh al-Islam fis Syarqi al-Aqsha, keduanya menolak teori yang dikemukakan oleh para sarjanawan Barat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Asia Tenggara khusunya ke Malaysia dan Indonesia pada abad ke-13 M. mereka meyakini bahwa Islam masuk pada abad ke-7 H, karena kerajaan Islam baru ada di Sumatera pada sekitar akhir abad ke-5 dan ke-6 H. Hal ini mereka pertegas dengan mengemukakan beberapa bukti, antara lain tentang sejarah kehidupan seorang penyebar agama Islam di Jawa yakni Seikh Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Uluwwul Islam Makhdum lahir pada tahun 1355 tahun Jawa. Sedangkan ayahnya masuk ke Jawa setelah masuknya Sayrif al-Husein raja Carmen pada tahun 1316 tahun Jawa. Setelah itu masuk Raden Rahmat, seorang penyebar agama Islam di Jawa Timur pada tahun 1316 tahun Jawa.[12]
3.         Teori yang dikemukakan oleh MC. Riflefs dalam bukunya A History of Modern Indonesia (London: McMillan Education) h. 3, yang mempertegas bahwa masuknya Islam ke Indonesia ialah ketika Marcopolo singgah di Sumatera tahun 1292 M. Marcopolo, ketika itu meliaht bahwa telah ada batu bertulis tentang kerajaan Islam pertama di Samudra yang disebut dengan kerajaan Islam di Pasai

Satu lagi teori yang dikutip oleh Azyumardi Azra adalah bahwa Islam telah masuik ke Indonesia sejak abad ke-13 H melalui kegigihan para kaum sufi yang mengembara dan melakukan penyiaran Islam secara ataraktiv, khusunya dengan menekankan kesesuaian Islam dan komunitas daripada perubahan dalam praktek kepercayaan lokal. Mereka juga mengawini putri para penguasa pada masa itu untuk mempermudah pengembangan Islam. Faktor pendukung lainnya adalah tasawwuf yang memang telaha da sebagai sebuah kategori dalam literatur sejarah Melayu khususnya di Nusantara pada waktu itu.[13]
Teori versi Indonesia menjelaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedangan dari Persia, Arab dan India melalui pelabuhan penting seperti pelabuhan Lamuri di Aceh, Barus dan Palembang di Sumatera sekitar abad I H/7 M.[14]
Dari beberapa teori diatas dapat diketahui bahwa, sesungguhnya ada perbedaan dikalangan sejarawan dalam melihat kapan dan dari mana Islam masuk ke Nusantara untuk pertama kalinya. Namun perbedaan-perbedaan tersebut tidak sampai mengkaburkan tentang ada dan berkembangnya agama Islam di Nusantara ini, sebagai salah satu wilayah yang mayoritas penduduknya adalah muslim.
Lantas, dengan cara seperti apa proses penyebaran Islam di Indonesia begitu cepat terjadi dan diterima oleh penduduk setempat pada waktu itu?
Pada dasarnya, Islam disebarkan di Nusantara dengan cara damai dan tidak dengan kekerasan apalagi dengan pedang. Islam masuk seirama dengan budaya setempat, bahkan Islam tidak melakukan perubahan secara radikal dan sporadic.
Dalam sejarah dikatakan bahwa Islam dijadikan stabilisator apabila stuasi politik sedang mengalami ketidak-stabilan karena perebutan kekuasaan antara beberapa kalangan.[15] Badri Yatim mengutip pendapat Candarsasmita yang mengatakan bahwa penyeberan Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai melalu enam cara berikut:[16]
1.         Perdagangan.
Pada tahap awal, jalur perdagangan adalah satu-satunya jalan yang paling memungkinkan , karena lalu-lintas perdagangan memang telah ramai sejak abad ke-7 sampai abad ke-16 M. Jalur ini sangat menguntungkan karena para raja-raja juga terlibat dalam aktivitas perdagangan ini, bahkan mereka merupakan pemilik kapal dan saham. Selanjutnya jalur ini menjadi lebih penting dan strategis karena sebagaian dari mereka adalah penguasa, sehingga proses Islamisasi lebih mudah terlaksana.
2.         Perkawninan.
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim mempunyai status yang lebih baik dibandingkan dengan mayoritas penduduk pribumi, sehingga penduduk pribumi dan khususnya para putri raja tertarik untuk menjadi istri para saudagar. Sebelum mereka menikah, biasanya putri ini diIslamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, dengan otomatis tentu saja lingkungan dan penduduk muslimpun semakin luas hingga mereka bisa membentuk pemukiman, hingga pada gilirannya terbentuklah kerajaan-kerajaan Islam. Jalur ini menguntungkan karena dengan keterlibatan kalangan istana dan keturunannya akan mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang dilakukan oleh Raden Rahmat atau sunan Ampel dengan Nyai Manil, Sunan Gunung Jati dengan putri Kawungten, Brawijaya dengan puteri Campa yang menurunkan Raden Fatah (raja pertama kerajaan Demak).
3.         Tasawwuf.
Pengajar-pengajar tasawwuf atau para sufi mengajarkan ajaran agama bercampur dengan kebudayaan yang telah masyarakat kenal sebelumnya. Para muballigh ini juga mahir dalam ilmu kebathinan dan pengobatan. Dengan cara dan jalur ini, Islam menyeber dengan cara yang menyentuh dan memberi kesan damai. Diantara mereka ini adalah Hamzah Fansyuri di Aceh, Sekh Lemang Abang dan Sunan Panggung di Jawa.
4.         Pendidikan.
Penyebaran agama Islam juga dilakukan melalu jalur pendidikan, yakni pesantren meskipun dalam arti yang lebih sederhana. Di pesantren atau pondok, para kyiai dan guru mengajar dan menyebarkan ajaran Islam. Santri-santri yang telah menamatkan kajiannya akan keluar dan wajib menyebarkan ajaran Islam. Conth pesantren ini adalah seperti pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel di Ampel, dan Sunan Giri di Giri.
5.         Kesenian.
Penyebaran dakwah melalui kesenian maksudnya adalah menyampaikan dakwah ajaran Islam melalui kesenian yang telah ada dan dikenal dekat oleh masyarakat setempat. Di Jawa, media utamanya adalah wayang, dalam hal ini Sunan Kalijaga adalah salah satu sunan yang ahli memainkan wayang, setiap kali penonton ingin menyaksikan pertunjukannya, beliau meminta mereka untuk mengucapkan kalimat syahadat, namun beliau tidak mengatakan bahwa itu merupakan ucapan bagi orang yang akan masuk agama Islam. Selanjutnya dalam setiap lakon yang dimainkan, seperti kisah Mahabrata dan yang lainnya, maka beliau akan menyelipkan nama tokoh Islam. Tanpa disadari, kepada para penonton telah diperkenalkan beberapa ajaran Islam. Cara ini ternyata sangat efektif, karena para penonton tidak merasa terpaksa untuk mengikuti dakwah dan ajaran yang disebarkan melalui media wayang.
6.         Politik dan Kekuasaan.
Di kepulauan Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan para penduduk masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu, sehingga peran dan partisipasi raja sangat membantu proses Islamisasi di daerah tersebut. Di bagian Timur Indonesia baik di daerah Sumatera dan Jawa banyak kerajaan-kerajaan Islam yang demi kepentingan politiknya memerangi kerajaan non-Islam. Ke-enam jalur yang dipergunakan oleh para pembawa ajaran Islam seolah-olah terlihat menumpang di sela-sela institusi yang telah dikenal oleh masyarakat setempat, baik melalui kesenian dan kebudayaan masyarakat.

Di sisi lain, ternyata media dan jalur ini mempunyai kelemahan, yakni sulitnya masyarakat untuk membedakan antara ajaran Islam dengan cerita pewayangan ataupun dongeng yang diberikan. Akan tetapi pada saat itu, inilah cara yang paling mungkin dan paling efektif, karena memang akan sangat sulit untuk memperkenalkan agama Islam sebagai agama baru kepada masyarakat yang telah mempunyai keyakinan keberagamaan lain, apalagi keyakinan mereka itu adalah hal yang sudah sangat melembaga dan bersifat turun-temurun. Adapaun beberapa faktor yang mendorong perkembangan masyarakat Islam adalah antara lain sebagai berikut:
1.         Hubungan baik antara para saudagar pembawa ajaran Islam dengan pemerintah atau penguasa setempat.
2.         Saudagar-saudagar itu tidak mencampuri urusan politik.
3.         Saudagar-saudagar muslim itu lebih dahulu mempraktekkan ajaran agamanya pada dirinya dalam berinteraksi dengan masyarakat.
4.         Tidak ada paksaan dalam dakwah.
5.         Beberapa keistimewaan ajaran Islam dibandingkan ajaran Hindu dan Budha dan agama lainnya yang dianut oleh masyarakat setempat.[17]

Faktor-faktor tersebut menarik kegemaran penduduk setempat untuk menganut agama Islam dengan suka hati, disamping para saudagar yang datan ke-gugusan pulau-pulau Nusantara tidak membawa serta istri mereka atau memang mereka belum mempunyai istri. Hal ini kemudian mendorong mereka untuk menikahi wanita-wanita penduduk pribumi, dan tentu saja isteri-isteri mereka ini akan masuk Islam, dengan begitu, serta keturunan mereka akan memperbanyak kaum muslim di daerah tersebut.
Pendapat lain yang hampir serupa mengemukakan bahwa setidaknya ada tiga determinasi yang mempercepat proses penyebaran agama Islam di Indonesia.
1.         Karena ajaran Islam itu mengajarkan tauhid
Ajaran tauhid ini merupakan ajaran baru yang secara diametral bertentangan dengan hubungan kemasyarakatan saat itu yaitu sistem kasta yang merupakan ajaran Hindu. Selain itu, Islam juga mengajarkan egalitarian (keadilan), kesamaan serta prinsip rasionalitas. Islam tidak pernah memerintahkan sesuatu yang diluar jangkauan para penganutnya.
2.         Ajaran Islam bersifat fleksibel
Ajaran agama merupakan kodifikasi kebenaran-kebenaran universal. Misalnya ada sesuatu yang telah berkembang pada masyarakat, maka Islam tidak akan merubahnya secara spontan. Tetapi manakala hal itu bertentangan dengan ajaran Islam, maka disinilah dilakukan proses Islamisasi.
3.         Ketiga adalah bahwa pada akhirnya Islam itu digunakan untuk melawan ekspansi luar atas mereka.[18]


[1]     http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67
[2]     Azyumardi Azra, Renessaince Islam di Asia Tenggara (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999) hal: 75-76.
[3]     Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1998) hal:. 24.
[4]     Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, ter. Kieraha (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000) hal: 717
[5]     Thomas W. Arnold, The Preaching Of Islam, terj (Jakarta: Penernit Widiya, 1981) h. 317-318.
[6]     Ibid
[7]     Azra, Jaringan Ulama, h. 24.
[8]     Hasan Mu’arif Ambary, Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam di Indonesia (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001) h. x.
[9]     A. Hasjmy, Sejarah Masuk Dan Berkembangnya Islam Di Indonesia (Bandung: al-Ma’arif, 1993)
[10]    A. Hasjmy, Dustur Dakwah (Jakarta: Bulan Bintang, 1974) h. 430.
[11]    Hasan al-Idrus, Penyebaran Islam di Asia Tenggara, Jakarta, Lentera 1996
[12]    Ibid. h. 42-43
[13]    Azyumardi Azra, Jaringan, h. 32-33
[14]    Taufik Abdullah, Sejarah Ummat Islam Indonesia (Jakarta: MUI, 1991).
[15]    Uka Candasasmita, Sejarah Nasional Indonesia III (Jakarta: Balai Pustaka, 1984) h. 26
[16]    Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2000) h. 201-202.
[17]    Wan Hussein Azmi, Islam di Aceh: Masuk Dan Berkembangnya. Dalam A. Hasjmy, Dustur. H. 182.
[18]    Fakhri Ali dan Bachtiar Efendi, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Islam Indonesia Masa Orde Baru (Bandung: Mizan, 1986) h. 32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar